About Me

Hay perkenalkan nama saya Aryo Seto. Saya lahir di bekasi 19 September 1995. Saya anak ketiga dari tiga bersudara, yaa bisa di bilang anak bontot. Hoby saya itu menggambar, desain dan apapun yang berbau seni saya sangat suka sekali, karna darah seni dari orang tua say sangat menalir deras wkwkwkwwk. Alm. Ayah saya lahir di Ponorogo yang terkenal dengan Reog nya, dan Ibu saya lahir di Pekalongan yang biasa di sebut dengan kota Batik. Dari kecil saya suka sekali menggambar, hingga saat TK dan SD saya selalu menjuari lomba gambar, ya meskipun gambarnya hanya gunung dan sawah saja wkwkwkwk. Hingga saya SMP dan SMK saya mulai belajar membuat graffiti. Di karenakan saya ingin mengexplore ilmu yg saya punya, saya mulai beralih ke desain digital. Seperti membuat Digital Imaging, Vector, Logo dan lainnya. Saat ini saya juga sedang mendalami desain web, meskipun masih pemula saya selalu berusaha untuk bisa. Karna prinsip saya ayaitu "Nakal boleh, Bodoh jangan" itu yang selalu saya jalani. Meskipun sekarang saya bukanlah orang baik, tapi saya tidak mau menjadi orang yang bodoh. Terima kasih telah membacanya. :)

Misteri Kematian Musisi Diusia 27 (27 Club)

by 02.59 0 komentar


 
Iya, 27 tahun adalah usia ideal untuk mati.
Huh?Jangan terburu-terburu kelojotan terjengkang ke belakang lalu menuduh saya sebagai sosok yang menyarankan mengakhiri hidup lebih cepat alias segera bunuh diri. Oh, tidak. Saya adalah sosok yang mencintai hidup. To me, to commit suicide is stupid. Plain stupid.

Namun sebagian rockstar rupanya kurang sependapat. Lihat Kurt Cobain. Atau Jimi Hendrix. Atau Jim Morrisson. Ketiganya mangkat ketika menginjak usia 27 tahun, umur yang menurut perspektif normal justru dikategorikan “produktif”, sedang segar-segarnya untuk bergiat melakoni hidup. Nah, fenomena ganjil “wafat di usia 27″ yang banyak terjadi pada musisi rock ini oleh pengamat subkultur diistilahkan dengan “27 Club”—sebagian menjuluki sebagai “Forever 27 Club”.
Kongsi pemberi nama “27 Club” tadinya hanya memasukkan para rockstar yang meninggal di antara tahun 1969 dan 1971 sebagai “anggota tetap” klub tersebut semisal Brian jones (meninggal di tahun 1969) atau Janis Joplin (1970). Namun di pertengahan, Kurt Cobain—yang bunuh diri pada 1994, mungkin atas pertimbangan peran gigantiknya terhadap “pop culture”, karena kontribusi eksesifnya pada kemaslahatan rock ‘n’ roll, Cobain lalu dianugerahi kehormatan: diangkat menjadi warga permanen 27 Club (Cobain pasti amat bahagia akhirnya diajak bergabung sebab menurut buku “Heavier Than Heaven” saudara perempuan Cobain bilang bahwa saat remaja Kurt Donald Cobain pernah bercita-cita masuk 27 Club…)
Penyebab kematian masing-masing rockstar bersumber dari faktor beragam. Sebagian besar, you betcha, dikarenakan overdosis narkotika dan zat adiktif serta konsumsi alkohol berlebih.Berikut daftar nama para awak Klub 27:
1. BRIAN JONES
Rekam Jejak: Pendiri Rolling Stones, gitaris, multi instrumentalis
Tanggal Mangkat: 3 Juli 1969
Penyebab Kematian: Tenggelam di kolam renang—di tubuhnya banyak kandungan alkohol dan narkotika.
2. JIMI HENDRIX
Rekam Jejak: Gitaris Yang Maha Esa Maha Mulia Maha Mengetahui
Tanggal Mangkat: 18 September 1970
Penyebab Kematian: Overdosis obat tidur.
3. JANIS JOPLIN

Rekam Jejak: Eselon utama solis wanita, satu dari sedikit penyanyi paling dipuja sepanjang masa, ranking #46 daftar “100 Greatest Artists of All Time” menurut majalah Rolling Stone
Rekam Jejak: Seniman serba bisa (penulis puisi, pengarang lagu, penyanyi), frontman The Doors
Tanggal Mangkat: 4 Oktober 1970
Penyebab Kematian: Takaran heroin berlebih.
4. JIM MORRISON
Rekam Jejak: Penyanyi, gitaris, penulis lirik Nirvana; salah satu nabi Grunge
Tanggal Mangkat: 3 Juli 1971
Penyebab Kematian: Gagal jantung (versi resmi), overdosis narkoba (versi yang banyak dipercaya orang)
5. KURT COBAIN
Tanggal Mangkat: 5 April 1994
Penyebab Kematian: (Dicurigai) bunuh diri menggunakan senjata api—pula terdeteksi kandungan heroin tingkat tinggi serta valium di dalam tubuhnya
Artis penting lain yang meninggal di usia 27 namun tak terdaftar Klub 27 di antaranya: Robert Johnson (aktivis blues legendaris), Ron “Pigpen” McKernan (Grateful Dead), Dave Alexander (The Stooges), Gary Thain (Uriah Heep), D. Boon (The Minutemen), Pete de Freitas (Echo & The Bunnymen), Kristen Pfaff (Hole), dsb.
6.KRISTEN PFAFF
Kristen Marie Pfaff atau Kristen Pfaff sangat dikenal sebagai musisi asal Amerika Serikat sebagai bassis band rock alternatif, Hole, dari tahun 1993 sampai 1994. Sebelum bersama Hole, Pfaff juga sempat menjadi bassis dan backing vocal untuk Janitor Joe, band asal Minneapolis.
Pfaff juga menjadi salah satu selebritis yang hidupnya berakhir di usia 27 tahun. Ia meninggal pada tanggal 16 Juni 1994 dengan ditemukan tewas di apartemennya. Di lantai ada tas yang berisi jarum suntuk dan alat untuk memasukan obat.
Seperti bukti yang ditemukan, Pfaff pun terbukti tewas karena disebabkan kecanduan opium. Ayahnya mengutarakan kalau Pfaff merupakan sosok yang berkepribadian tenang dan sangat sabar, juga berbakat.


Rata-rata dari musisi tersebut pada akhirnya memang dikenang sebagai sosok terhormat. Tepat ketika kejayaan mereka sedang di puncak, eh, ternyata mereka malah “cabut”. Momentum yang tepat. Berujung manis lagi sentimentil. Kontingen musisi mati muda itu kerap diberi cap kalau tidak “legend” ya “cult” (sebut saja Kristen Pfaff misalnya, mungkin dia sejatinya belum layak dianugerahi status legend, namun karena momentumnya pas, “cabut” di saat yang tepat, ya akhirnya Kristen mendapatkannya—bahkan ada sebuah situs yang memang sengaja didedikasikan khusus untuk Kristen, lengkap dengan statement obsesif: “this page is dedicated to Kristen Pfaff, an incredibly beautiful and talented musician, dedicated activist and adventurous spirit…”)
Oh tidak, sekali lagi saya tegaskan, saya sama sekali bukan menganjurkan anda untuk menyudahi hidup anda. Ambillah sudut pandang yang lebih bijak dari artikel ini. Sebab moral dari cerita ini adalah tentang so-called “momentum”. Sebagai seniman musik semestinya anda sadar kapan harus menyudahi karir anda, kapan harus “cabut”. Kalau sudah uzur ya sebaiknya mundur, beri jalan kepada yang muda. Anda jadi pemain belakang saja. Jangan mengulangi kesalahan—sekadar menyebut contoh—James Brown. Saat sedang di puncak jaya, beragam predikat disandangnya: “The Godfather of Soul”, “King of Funk”, “The Hardest Working Man in Show Business”. Dan ketika telah mulai dimakan usia ditambah pamornya yang perlahan pudar, pria keling bernama lengkap James Joseph Brown, Jr. ini bersikeras ogah mundur. Paman James tetap saja memaksakan diri agar tetap eksis. Gagal total. Segala gelar adiluhung juga, well, gak ngaruh. Paman James akhirnya menjalani hari tuanya—hingga tutup usia—dengan merana.

Sekian dari pembahasan 27club, maaf bila ada salah kata..

Unknown

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar